Sertifikat yang telah diperoleh selama semester 3
Nama : Ismi Azizah
Kelas : 2EB01
NPM : 23213557

|
Menkeu Sri Mulyani Indrawati memprediksikan jika
tanpa pengawalan kebijakan yang ketat, APBN 2008 dapat saja mencapai defisit
4,3% dari PDB atau Rp185,4 triliun. Kondisi ini, dapat terjadi jika
pendapatan negara hanya mencapai Rp786,4 triliun dan belanja pemerintah
Rp971,8 triliun. (Bisnis, 1 Februari).
Dalam situasi yang memerlukan sustainability fiscal
seperti sekarang ini, pelonggaran angka defisit wajar terjadi dan memang mau
tidak mau harus dilakukan. Persoalannya sekarang, pada kisaran angka defisit
berapakah yang bisa dijadikan acuan anggaran dan pastinya juga masih dalam
kendali.
Efisiensi & optimalisasi APBN
Pada
hakikatnya, efisiensi dalam APBN adalah cara mengoptimalkan APBN.
Optimalisasi ini tidak hanya meliputi nilai efisiensi tapi juga harus
memenuhi kriteria seberapa ekonomis dan efektifnya penggunaan uang yang
dikeluarkan. Efektif berarti anggaran yang dikeluarkan dapat mencapai sasaran
yang telah ditentukan. Nilai efektivitas ini merupakan hasil dari kemampuan
suatu anggaran untuk mencapai tepat sasaran atau tepat guna. Efisien merupakan
cara untuk mengolah aspek waktu sebaik mungkin. Anggaran yang dikeluarkan
bisa disebut efisien jika manfaat atau hasil yang diperoleh tepat sasaran
dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Sementara itu, ekonomis adalah
suatu cara penghematan yang dilakukan dengan bijaksana. Nilai ekonomis ini
akan menentukan pengeluaran di sektor apa saja yang harus mendapat skala
prioritas lebih dalam rangka mendapatkan hasil yang optimal secara
keseluruhan.Satu hal yang harus diperhatikan dalam efisiensi anggaran adalah
usaha-usaha penghematan yang dilakukan tidak boleh mengganggu alokasi
anggaran program pemberantasan kemiskinan dan pembangunan infrastruktur.Dalam
rencana yang akan diajukan, pemerintah memutuskan untuk mengalihkan subsidi energi
sebesar Rp25 triliun, yang di antaranya diperoleh dari penghematan subsidi
BBM dan listrik, untuk program stabilisasi harga bahan pokok.Selain itu,
penghematan juga rencananya akan diberlakukan pada anggaran belanja
kementerian dan lembaga negara. Prioritas alokasi anggaran pada program
stabilisasi pangan merupakan hal yang tepat.
Pajak atau utang
Menutupi defisit APBN, tentu saja pemerintah berharap dari tambahan
penerimaan ekspor pertambangan atau sektor komoditas serta penerimaan dividen
dari BUMN menjadi Rp31 triliun. Kendati selayaknya dividen digunakan bagi
investasi BUMN tersebut agar menjadi lebih besar dan bukan hanya untuk
menutup APBN.
Alternatif lain adalah opsi menggenjot
penerimaan pajak dan menambah utang baru. Dalam kondisi perlambatan
ekonomi, menggenjot penerimaan pajak menjadi hal yang susah direalisasikan.
Dengan adanya peraturan mengenai fiskal, pajak ekspor dipastikan akan
turun.Selain itu, kenaikan pajak akan dibebankan pada konsumen yang akan
bermuara juga pada kenaikan laju inflasi.
Opsi
terakhir adalah menambah utang baru. Pemerintah berencana menaikkan utang
baru dari dalam negeri dengan menerbitkan obligasi negara dengan kenaikan
target dari Rp90 triliun menjadi Rp108,4 triliun.
Mengacu pada pendekatan akuntansi (accounting approach), ada dua faktor
yang perlu dipertimbangkan untuk mencapai kebijakan fiskal yang diharapkan.
·
Pertama, primary balance harus surplus. Primary
balance adalah selisih antara anggaran penerimaan dan pengeluaran di luar
bunga dan cicilan utang.
·
Kedua, rasio utang terhadap PDB yang konstan.Faktor-faktor
yang perlu dipenuhi dalam pencapaian kestabilan fiskal, sebagaimana yang
disyaratkan Accounting Approach
dalam pelaksanaannya memiliki kelemahan karena profil jatuh tempo utang
pemerintah diabaikan. Jika jatuh tempo utang terkonsentrasi pada satu periode
yang berdekatan dan primary balance
surplus tidak mampu mengimbangi, tekanan fiskal dari lonjakan pembayaran
utang yang jatuh tempo tidak bisa dihindari.
Tekanan fiscal
Kondisi APBN 2008 adalah sebesar 2,3%. Dengan kondisi seperti itu,
primary balance belum bisa mengkompensasi beban pembayaran bunga dan cicilan
pokok utang. Struktur jatuh tempo utang pemerintah juga terkonsentrasi pada
periode 2007-2014. Jadi meski primary balance masih surplus, tekanan fiskal
pada periode ini harus dikendalikan.Untuk mengatasinya pemerintah harus
melakukan refinancing. Jalan yang lebih aman dengan menambah utang dalam
negeri meski kemungkinan berdampak negatif pada perekonomian nasional,
misalnya tingkat bunga pasar akan lebih tinggi dan terjadi crowding-out
effect terhadap sektor swasta di pasar finansial. Tekanan perlambatan
ekonomi yang tak bisa dihindari, pelonggaran defisit anggaran mau tidak mau
mesti dilakukan. Dalam tujuh tahun terakhir, angka defisit tertinggi yang
berhasil dikendalikan adalah 3,6% pada 2001. Dengan mengacu pada angka itu,
kisaran 2%-3% merupakan defisit yang masih manageable.
Ada pemikiran lain yang mengatakan bahwa masih terdapat sumber lain yang masih mungkin dilakukan adalah dengan mempercepat proses pengembalian uang negara, baik yang dari BLBI para obligor kooperatif maupun non-kooperatif yang jika dijumlahkan bisa mencapai ratusan triliun maupun dari kasus-kasus korupsi kakap lainnya. Namun tindakan ini memerlukan keberanian yang cukup kuat dan juga tidak mudah direaliasikan mengingat korupsi sudah mendarah daging dalam praktiknya.
Sebagai
penutup, dengan tekanan fiskal pada struktur APBN kita, sudah selayaknya kita
mendukung upaya efisiensi program pemerintah serta pengembalian aset negara
dari para koruptor demi tercapainya upaya stabilisasi perekonomian nasional.
|